Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (PC LDII Senen) berkolaborasi dengan Remaja LDII Senen bidang Keputerian menyelenggarakan seminar kewanitaan berbasis masjid dengan tema “Kesehatan Mental dan Insekuritas pada Wanita” di Masjid Al-Firdaus pada Sabtu (27/5). Seminar tersebut dihadiri oleh puluhan wanita dan remaja putri LDII Senen dengan menghadirkan praktisi dan pemerhati di bidang ilmu psikologi dan kesehatan mental, yaitu Laksmita Ramadhanti.

Ketua PC LDII Senen, H. Arie Saputra mengatakan, “Kegiatan ini merupakan program tahun 2023 yang bertujuan untuk memberi pembekalan tentang pentingnya kesehatan mental dan insekuritas khusunya bagi wanita”. Masalah kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja tidak mengenal jenis kelamin, usia, dan status sosial tetapi perempuan memiliki kerentanan yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control (CDC) merilis survei pada awal Februari 2023, menemukan bahwa pada tahun 2021 sebanyak 57% remaja puteri usia SMA mengalami perasaan sedih atau putus asa berkepanjangan, hal tersebut naik 36% dari statistik pada tahun 2011 (theconversation.com).

Sehubungan dengan hal tersebut, pada seminar yang memiliki jargon “Ubah Insecure Jadi Bersyukur” ini disampaikan materi tentang teori kesehatan mental, permasalahan mental, mengenali diri sendiri (self recognition), mencintai diri sendiri (self love), dan simulasi terapi penyembuhan (healing). Laksmita Ramadhanti yang akrab disapa Mita mengatakan, “Menjaga kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi perempuan. Masih banyak perempuan yang abai dengan hal ini sehingga berakibat pada masalah mental yang lebih serius. Saat ini banyak perempuan memiliki perasaan cemas (insecure) sehingga mengakibatkan hilangnya rasa cinta terhadap diri sendiri (self love) dan mengakibatkan sulitnya penerimaan terhadap diri sendiri (self-acceptance)”. Selain itu, Mita menambahkan bahwa kesehatan mental sangat penting dan memiliki kontribusi dalam membentuk generasi penerus yang sehat baik fisik maupun mental ditengah gempuran permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita, seperti perundungan (bullying), paparan media sosial, kenakalan remaja, dan sebagainya.

Seminar berbasis masjid yang dikemas secara santai ini memperoleh respon positif dan antusias dari peserta. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak pertanyaan yang diajukan oleh para ibu dan remaja puteri pada sesi tanya jawab. Bahkan, beberapa peserta tampak emosional ketika mengutarakan pertanyaan. “Saya senang sekali dengan adanya kegiatan ini, ambience acaranya santai sehingga saya tidak merasa canggung untuk menyampaikan unek-unek”, uja Ida. “Kegiatan seperti ini harus diselenggarakan secara berkesinambungan, apalagi ini sangat erat kaitannya dengan pengetahuan tentang keorangtuaan (parenting)”, ujar Nisa.

Acara diakhiri dengan sesi healing, seluruh peserta diminta untuk melakukan relaksasi dan pengenalan terhadap diri sendiri. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah dan foto bersama. “Setelah kegiatan ini semoga peserta memperoleh cara pandang baru dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga jargon “Ubah Insecure Jadi Bersyukur” tidak hanya jadi jargon belaka”, ujar Makah Madinah selaku koordinator acara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here