27.4 C
Jakarta
Sabtu, 27 Februari 2021

Dermawan

Oleh: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

Izinkan kami menulis nilai-nilai humanisme untuk meningkatkan derajat manusia lebih manusiawi dan berbudaya. Lebih bermanfaat. Tak lain, untuk terus mengajak fastabiqul khairat. Jangan melihat dari sisi yang berbeda, tapi lihatlah dari sudut esensi nilai luhurnya. Yaitu nilai-nilai akhlaqul karimah, yang menjadi pembeda di manapun kita berada. Walau, kita belum sampai di sana.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.‏

Dari Abi Dzarr, dia berkata; “Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku; “Bertakwalah kepada Allah dimana dan kapan saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (Rowahut Tirmidzi) Berkata Abu Isa; “Ini hadits hasan shahih.”

Mari kita simak percakapan dari waktu yang berbeda dan tokoh yang berbeda. Satu dari abad 6 Masehi, satu dari abad 21 Masehi. Antara Hatim Ath-Tha’i dan Bill Gates, yang terkenal dermawan keduanya. Tanpa wasiat dan tanpa perantara, namun mirip satu dengan lainnya.

Ada seseorang yang bertanya kepada Hatim ath-Tha’i, “Wahai Hatim, adakah orang yang mengalahkanmu dalam hal kedermawanan?” Hatim menjawab, “Ada, seorang anak yatim dari Thayyi’. Aku pernah singgah di halamannya. Ia memiliki sepuluh ekor kambing. Ia bermaksud menyembelih satu ekor di antara kambing itu. Ia mengolah dagingnya dengan baik dan memberikannya kepadaku.” Hatim melanjutkan, “Daging yang ia berikan kepadaku adalah otak. Aku memakan daging pemberiannya, dan memuji kelezatannya. Aku berkata padanya, “Demi Allah, lezat sekali.” Lalu ia pergi dari sisiku dan menyembelih kambing-kambing yang lain lagi.

Tanpa sepengetahuanku, ia kembali memberikan otak kambing itu kepadaku. Pada saat keluar, aku melihat di sekitar rumah anak itu ada banyak darah. Ternyata ia telah menyembelih semua kambingnya. Aku pun berkata kepadanya, “Mengapa kamu melakukan semua ini?” “Subhanallah, kamu memuji kelezatan daging kambingku, dan aku bakhil terhadapmu. Hal itu menurut orang Arab dinilai sebagai perbuatan buruk,” jawab anak itu.

Lalu orang itu kembali bertanya kepada Hatim, “Lantas, dengan apa kamu mengganti semua itu?” “Dengan tiga ratus unta berwarna merah, dan lima ratus ekor kambing,” jawab Hatim.“Kalau begitu, kamu lebih dermawan dari anak itu!” kata orang yang bertanya. Tetapi Hatim menjawab, “Tidak, bahkan ia lebih dermawan, karena ia mendermakan semua kambing yang dimilikinya, sedangkan aku mendermakan sebagian kecil dari binatang ternakku yang banyak.”

Empat belas abad kemudian ada percakapan serupa, tanpa sebuah rekayasa. Seseorang bertanya pada Bill Gates: “Adakah orang yang lebih kaya dari dirimu?” Bill Gates menjawab : “Hanya satu orang. Bertahun-tahun yang lalu, waktu aku miskin, aku pergi ke bandara New York, aku membaca surat kabar yang digelar disana. Aku tertarik pada salah satu surat kabar tersebut, aku ingin membelinya ternyata koinku tidak cukup. Tiba-tiba seorang anak kulit hitam memanggilku dan mengatakan : “Koran ini untuk anda!” Aku berkata: “Tapi koinku tidak cukup.” Dia berkata : “Tidak masalah aku memberikan anda gratis!” Setelah 3 bulan, aku pergi lagi ke bandara New York. Secara kebetulan cerita itu terjadi lagi, anak yang sama memberikanku koran gratis. Aku bilang aku tidak bisa menerimanya lalu ia berkata : ‘Aku akan memberimu keuntungan dari apa yang telah aku lakukan.’

Setelah lewat 19 thn, aku sudah kaya dan aku memutuskan untuk menemukan anak itu. Aku menemukannya setelah satu setengah bulan mencarinya. Aku bertanya padanya: “Kau kenal aku?” Dia bilang; “Ya, kau terkenal Bill Gates.” Aku bilang: “Beberapa tahun yang lalu kau memberiku surat kabar gratis 2 kali. Sekarang, aku ingin mengimbangimu. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan.” Pemuda kulit hitam itu menjawab: “Anda tidak dapat mengimbangiku!” Aku bilang: “Kenapa?” Dia berkata : “Karena saya memberi anda ketika aku miskin, sedangkan anda ingin memberi saya ketika anda kaya. Jadi bagaimana anda bisa mengimbangiku?” Bill Gates bilang : “Kurasa pria kulit hitam itu lebih kaya dari aku. Kita tidak harus menunggu kaya untuk memberi, karena adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima!”

Dari waktu ke waktu, Sang Guru Kehidupan selalu berujar; siapa pun berhak menjadi kaya, tetapi lebih penting lagi menjadi kaya sebelum kaya. Dalam hadits disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ قَالُوا وَكَيْفَ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai)

Jangan menunggu disebut dermawan setelah kaya. Tetapi menjadi dermawanlah sebelum menjadi kaya. Insya Allah setiap diri berpeluang melakukannya. Jika belum sampai, ada hal sederhana yang perlu dilakukan. Yaitu memperkaya hati terlebih dahulu. Sesuai wasiat indah Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah ﷺ berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?,” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban).

(/DPP)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

21,567FansSuka
0PengikutMengikuti
17,200PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles